Program Berita

Program Berita
Nantikan Artikelnya ( Iklan Hubungi :Aldhy Jenevo (WA= 0895414675959))

Jumat, 06 Juli 2018

AGAMA DAN POLITIK DALAM KEBERAGAMAN BANGSA


AGAMA DAN POLITIK DALAM KEBERAGAMAN BANGSA
(catatan diskusi bersama tokoh publik KalTim Ust. Habib Muhammad Assegaf)

Habib Muhammad Assegaf adalah seorang Penceramah Muda Kaltim, Saya dan Beliau kadang diskusi lewat WhatsApp, atau saya mengunjungi kediamannya di Muso Salim, Samarinda. Pabila ada waktu senggang beliau dari aktivitasnya yang padat keliling pelosok Kalimatan Timur untuk mensyiarkan Islam rahmatan lil alamin.
 photo : Ceramah Agama Habib Muhammad Assegaf  di acara Sebulu Bersholawat.Sebulu Kaltim

diskusi kami seputar agama,usaha-usaha tapi terkadang juga kami nyeletuk tentang kondisi politik kekinian baik daerah, nasional bahkan internasional.hal pertama yang saya dapatkan dari beliau adalah karakter yang low profile, menghargai yang muda, idealisme yang kuat untuk membangun masyarakat baik dari segi ekonomi atau pun sosial di tengah keberagaman kita berbangsa sesuai dengan norma agama yang sudah terkandung dalam Pancasila sebagai dasar kita berbangsa dan bertanah Air. Ada yang menarik dari diskusi kami tentang Agama dan Politik yang akan saya ulas di artikel ini.

                    
Bisakah Agama dan Politik di pisahkan ?

Kita sebagai Umat beragama tidak bisa memisahkan Politik dan agama, kalo umat beragama tidak peduli politik maka ummat akan di pimpin orang orang yang tidak peduli dengan agama.
Umat Islam harus bisa menyuarakan dan memilih pemimpin dari umat Islam, begitupun agama non Islam silahkan di arahkan untuk memilih yang se akidah. karena semua agama mengajarkan kebaikan. Politisi yang berahlak yang di harapkan semua pihak.

Tapi terkadang banyak opini di luar yang mengatakan kalo Ustad jadi Ustad saja tidak usah berpolitik, Politik itu kotor, inilah doktrin sesat yang sengaja di sebarkan oleh politisi politisi busuk yang bernafsu untuk menguasai sekolompok masyarakat dalam sebuah negara untuk kepentingan Pribadi dan golongannya, karena politikus semacam ini akan menghalalkan segala cara untuk berkuasa, sedangkan kita dalam agama ada batasan, ada norma yang mana halal dan yang mana Haram, inilah yang membedakan antara Politik tanpa Agama dengan Politik dengan agama.

akan tetapi tidak semua politisi itu busuk masih banyak politisi politisi yang baik, yang benar benar memikirkan Rakyatnya.

Jadi jangan salah Kaprah, Politik dan agama harus berbanding lurus ,berjalan bersama. Politik itu membuat kebijakan dan Agama adalah kontrol untuk kebijakan tersebut. tanpa kontrol kebijakan akan menjadi loss kontrol, Semua hal yang tidak terkontrol itu berbahaya.

Tapi kenapa negara negara yang "kurang peduli" dengan agama lebih maju dibanding kita yang mayoritas beragama?

inilah bukti kalo kita umat beragama tidak peduli Politik, perlu di ingat sebelum Negara ini berdiri sampai merdeka, sadar atau tidak sadar kita sudah di dikte oleh negara negara yang bernafsu menguasai dunia,kita sudah di dikte masalah Eknomi,politik bahkan budaya pun ikut di dikte.secara logika seseorang yang sudah di dikte tidak akan mungkin lebih maju atau lebih hebat dari yang mendikte. buktinya bahwa kita di dikte leh negara maju sejak kita merdeka sudah bukan rahasia lagi, dokumen dokumen Rahasia negara maju sudah terbongkar dan sudah menjadi rahasia umum termasuk apa yang terjadi di negara ini. coba anda cari dan baca sendiri.

Namun, banyak Politisi yang background agama yang Korupsi?

Kita harus akui bahwa Politisi yang backgrounya agama juga melakukan korupsi, tapi perlu kita ingat Korupsi atau pun mengambil hak yang bukan haknya itu di larang oleh agama, jadi kesimpulannya adalah politisi tersebut bukan politisi yang menjalankan ajaran agama, walaupun backgroundnya dari agama, mungkin saja hanya berkedok agama untuk di pilih menjadi politisi.

Jadi yang harus kita bedakan adalah mempolitisasi agama dan politik agama.mempolitisasi agama adalah menjadikan agama sebagai kedok untuk di pilih oleh ummat beragama kemudian terpilih, setelah terpilih lupa menjalankan agama,akhirnya korupsi.dll.kan sudah ketahuan kalau jelang pilkada, pilgub pemilu para calon keluar masuk mesjid, pakai gamis, pakai hijab, setelah pilkada lepas semuanya.ini namanya politisasi agama.

akan tetapi jika pemuka agama atau orang beragama menyerukan untuk memilih pemimpin yang seiman dan seakidah ini adalah syiar yang di ajarkan oleh agama. bukan politisasi agama tapi politik beragama. jika orang orang menyerukan untuk memilih pemimpin dan menyebutkan karakter pemimpin yang wajib kita pilih dan itu sesuai dengan ajaran agama berarti itu bukan politisasi agama tapi politik kita beragama.

Jadi jangan pisahkan Politik dan agama jika kita mau berdaulat dalam politik.Allah mencipatakan keragaman di muka bumi ini bukan untuk saling menghancurkan akan tetapai saling mengayomi, menghargai, mayoritas merangkul minoritas,saling menghormati,paham posisi masing masing yang akan menciptakan persatuan untuk membangun bangsa dan negara yang kita cintai.

" BAGIMU AGAMAMU, BAGIKU AGAMAKU" kode toleransi kita sebagai umat Muslim,

Artikel bersambung....